Selasa, 05 Maret 2019

Review Harga Samsung Galaxy J2 Core dan Tipe Lainnya

Membahas soal kecanggihan teknologi gadget memang tidak akan bosan dan tidak akan ada habis-habisnya. Bagaimana tidak! Sebab kecanggihan teknologi gadget dari masa ke masanya itu semakin berkembang pesat. Hal itu pun terbukti, dimana ada banyak sekali hp android yang mengusung teknologi tercanggih masa kini, yang tentu saja akan semakin memanjakan bagi para penggunanya.

Ya, salah satunya adalah hp android merk Samsung, yang memang sudah teruji akan kecanggihan dan kualitasnya yang begitu mumpuni.

Nah, berbicara soal Samsung, pada ulasan kali ini akan mengulas seputar harga Samsung Galaxy J2 Core beserta spesifikasinya, dan juga tipe hp Samsung lainnya. Maka dari itu, simaklah baik-baik ulasannya di bawah ini:

1. Samsung Galaxy J2 Core

Menurut informasi yang di dapat, Samsung Galaxy J2 Core dibanderol dengan harga Rp 1.125.000 (satu juta seratus dua puluh lima ribu). Berikut spesifikasinya : OS -> Android, Shape -> Bar, SIM -> (Nano SIM, Dual SIM, Dual Standby), OS Ver -> Android 8 Oreo (G edition), Kecepatan CPU -> 1.4 GHz, RAM -> 1 GB, Storage -> 8 GB, Battery -> 2600 mAh, Ukuran Layar -> 5 inch, Resolusi -> TFT 540 x 960 pixels, Jaringan -> 2G - 3G - 4G LTE, Kamera Depan -> 5 MP, Kamera Belakang -> 8 MP, Fitur -> (wifi, hotspot, GPS, Bluetooth, flash, 3.5 mm headphone jack), Dimensi -> 143.4 x 72.1 x 8.0 mm, Berat produk -> 154 gram.

2. Samsung Galaxy J1 Ace

Selanjutnya ada Samsung Galaxy J1 Ace, yang dijual dengan harga Rp 1.029.000 (satu juta dua puluh Sembilan ribu). Berikut spesifikasinya : OS -> Android, Shape -> Bar, SIM -> (Nano SIM, Dual SIM, Dual Standby), OS Ver -> Android 4.4.4 Kitkat, Kecepatan CPU -> 1.2 GHz, RAM -> 0.75 GB, Storage -> 4 GB, Ukuran Layar -> 4.3 inch, Resolusi -> 800 x 480 pixels, Jaringan -> 2G - 3G - 4G LTE, Kamera Depan -> 2 MP, Kamera Belakang -> 5 MP, Fitur -> (wifi, hotspot, GPS, Bluetooth, flash), Dimensi -> 67.6 x 130.1 x 9.5 mm, Berat produk -> 131 gram.

3. Samsung Galaxy J3 Pro

Dan yang terakhir ada Samsung Galaxy J3 Pro, yang bisa anda dapatkan dengan harga Rp 2.150.000 (dua juta seratus lima puluh ribu). Berikut spesifikasinya : OS -> Android, Shape -> Bar, SIM -> Nano SIM, OS Ver -> Android 8.0 Oreo, Kecepatan CPU -> 1.5 GHz, RAM -> 2 GB, Storage -> 16 GB, Battery -> 2600 mAh, Ukuran Layar -> 5 inch, Resolusi -> TFT 540 x 960 pixels, Jaringan -> 2G - 3G - 4G LTE, CPU -> Exynos 7885.

Demikianlah ulasan singkat mengenai review harga dan spesifikasi Samsung Galaxy J2 Core beserta tipe lainnya.
 
Jika anda ingin membeli hp Samsung terbaru di situs onlineshop, sangat disarankan untuk berbelanja di Blibli.com. Pasalnya, di situs tersebut sedang mengadakan promo besar-besaran lho. Selain memberikan layanan pembayaran cash, di Blibli.com juga menyediakan pembayaran secara kredit. Dengan banyaknya harga promo yang akan anda dapatkan, maka tunggu apalagi! Buruan belanja di Blibli.com sekarang juga sebelum promonya kehabisan.

Jumat, 08 Februari 2019

Berburu Hunian Milenial di Indonesia Properti Expo (IPEX) 2019

Ada yang bilang, anak milenial zaman sekarang lebih suka menghabiskan uang untuk traveling. Katanya lagi, biaya traveling ke luar negeri masih lebih murah dibandingkan uangnya ditabung, kemudian untuk beli rumah yang harganya ratusan juta. Ya iyalah atuh! Berapa lama sih biasanya kita traveling? Paling sekitar 3-7 hari. Sedangkan kalau beli rumah, bisa kita huni sampai jangka panjang. Sampai kita menikah, lalu punya anak dan cucu. Kalau dipikir-pikir tentu wajar dong harga rumah lebih mahal daripada biaya jalan-jalan?

Tapi kembali lagi ke pribadi masing-masing ya. Kalau menurut saya, milenial yang keren itu adalah orang yang pandai mengelola keuangan. Dia bisa membagi mana yang menjadi prioritas, kebutuhan, dan keinginan. Nah, saya sendiri sedang berusaha menerapkan itu nih. Karena, selain hobi jalan-jalan, dari dulu saya punya keinginan untuk punya rumah sendiri, terpisah dari orangtua. Tapi ya gitu ... selalu galau mau memulainya dari mana.

PAMERAN IPEX 2019
Mendengar kata “pameran”, kalian pasti setuju akan ada banyak instansi yang memamerkan produk-produk mereka. Yup, sesuai dengan namanya: Indonesia Properti Expo, produk yang mereka tawarkan berupa hunian tempat tinggal.

Jujur saja, saya antusias ketika dapat informasi ini di media sosial. Rasanya seperti dikasih angin segar. Terlebih lagi, pameran yang bertajuk “Pesta KPR BTN Anniversary” ini diadakan di JCC tepatnya di Hall A dan B. Walaupun lumayan jauh dari rumah, tapi masih terjangkau dengan bus transjakarta.

Berfoto di depan pintu masuk

Jadi, datanglah saya ke Indonesia Properti Expo 2019. Ternyata hari itu adalah hari kedua pameran dibuka, dan akan terus berlangsung dari tanggal 2-10 Februari 2019. Untuk tiket masuknya sendiri free alias tidak ada biaya. Kita tinggal mengisi identitas diri pada salah satu komputer di loket pendaftaran, lalu srettt ... keluarlah secarik kertas putih dengan nomor undian. Jangan dibuang ya kertasnya, dimasukkan saja ke box yang ada di sekitar pintu masuk Hall. Karena setiap pengunjung yang hadir dan memasukkan kertas undian, berkesempatan memenangkan 1 unit Daihatsu Ayla. Pemenang akan diundi setelah rangkaian pameran selesai.

Keramaian di IPEX 2019

Masuk ke dalam Hall B, saya langsung “diserbu” oleh sales-sales cantik dan tampan. Mereka tentu saja menawarkan produk hunian yang beraneka ragam, mulai dari apartemen sampai perumahan. Lokasi yang disuguhkan pun bermacam-macam, meski kebanyakan di kawasan Serpong dan Depok. Saya pribadi berharapnya menemukan lokasi yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, bahkan kalau bisa masih bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Makanya lebih tertarik mendengar penawaran perumahan di kawasan Depok.

Namun, kalian jangan khawatir karena khusus di bulan Februari 2019, pameran ini melibatkan 150 peserta developer dan menampilkan 600 proyek properti dengan pilihan harga mulai Rp 130 juta dengan jangka waktu kredit sampai 30 tahun. Nah, selaku salah satu sponsor, selama acara berlangsung, PT. Bank Tabungan Negara (BTN) juga memberikan beragam promosi khusus bagi masyarakat, di antaranya suku bunga KPR mulai 6,69% dan uang muka 1%.

Oh iya, tadi saya bilang “khusus di bulan Februari” artinya pameran IPEX akan ada lagi, lho.  yaitu pada bulan Juli dan November 2019. Jadi, kalaupun memang dari ratusan properti yang ditawarkan sekarang belum ada yang nyantol, kalian bisa bersiap-siap untuk ikut IPEX berikutnya. Tapi mumpung masih ada sisa beberapa hari, mending datang ke Indonesia Properti Expo yang sekarang dulu, yuk.

Jangan takut merasa bosan. Karena selain pameran properti, di sini juga ada beberapa acara untuk meramaikan event pameran, seperti; seminar talkshow berkaitan milineal dan property financial planner, Blogger competition modern minimalis living, Talkshow Fengshui, IG Photo Contest, Lomba Menggambar dan mewarnai tingkat anak-anak, Atraksi barongsai, opera Anak dan beberapa live music.

DEKORASI RUMAH YANG INSTAGRAMABLE
Nah, salah satu talkshow yang kebetulan saya ikuti siang itu, Modern Minimalist Living. Tema kekinian yang sayang kalau dilewati. Bersama dua pembicara, yaitu Mbak Adelya dan Mbak Irma, pengunjung diberikan tips and trik yang ciamik. Saya pun langsung ambil tempat duduk paling depan agar lebih fokus.

Para pembicara

Dimulai dari Mbak Adelya, materi yang disampaikan, yaitu pemilihan tema dekorasi rumah yang terinspirasi dari media sosial.

Setidaknya ada empat tema yang disebutkan Mbak Adel, “Minimalis, Japanese, Boho/Bohemian, Industrial.”

•  Minimalis: Tema yang dipakai untuk menggambarkan ruangan yang sederhana dan bersih. Tema minimalis cenderung tidak memiliki dekorasi.
•  Japanese: Menggambarkan kesan minimalis sekaligus kecanggihan, seperti desain interior Jepang. Warna dinding yang biasa dipakai putih, krem, dan cokelat muda.
•  Boho/Bohemian: Tema ini biasanya dipakai apabila ingin rumah terasa ceria, riang, dan lebih hidup. Umumnya, tema Boho meletakkan beberapa tanaman sebagai hiasan. Ditambah warna dinding yang lebih variasi, yaitu putih, krem, cokelat muda, abu-abu, dan hitam.
•  Industrial: Tema ini mengacu pada tren pabrik-pabrik industri, sehingga kebanyakan yang menyukai adalah laki-laki. Lalu, dikarenakan dekorasi yang padat, maka warna dinding umumnya putih, abu-abu, dan hitam.

Mbak Irma saat menjelaskan materi

Kemudian, masuk ke sesi kedua, Mbak Irma dengan materi Mengabadikan Dekorasi Rumah Agar Instagramable. Sesi ini cukup menarik karena pastinya zaman milenial suka banget posting-posting di instagram. Tapi kalau dekorasi rumah kita kok sepertinya begitu-begitu saja, nggak ada bagus-bagusnya, gimana dong? Berikut tipsnya:

•  Tegak lurus. Dalam pengambilan angle sebuah objek jangan miring-miring.
•  Multiple Angle. Ambil beberapa gambar dari sudut pandang yang berbeda-beda, sehingga kita tidak perlu susah payah mengulang lagi kalau ada gambar yang kurang pas.
•  Buat soft texture. Maksudnya, jika kita mau memotret tempat tidur, jangan biarkan kasur kosong melompong. Tapi tambahkan bantal, selimut, atau atribut lain yang menimbulkan kesan nyaman dari kasur itu.
• Natural light. Secanggih-canggihnya lighting buatan, usahakan pakai lighting alami. Yaitu, cahaya yang masuk dari jendela yang terbuka. Pantulkan cahaya tersebut dengan cermin agar ruangan menjadi lebih terang.

Secara keseluruhan, berbagai tips dan trik yang dipaparkan kedua pembicara tersebut cukup mudah untuk diterapkan. Saya jadi nggak sabar untuk pulang dan mencobanya. Tapi sebelum itu, saya harus puas-puasin keliling-keliling dulu. Borong brosur!

#PUISI Luka Lama Tentangmu

Berulang kali aku mencoba
Menegakkan kepala dan menyejajarkan dagu
Meyakinkan bahwa dunia akan baik-baik saja,
bagi seseorang yang patah hati

Tapi aku bukanlah Tuhan yang Mahakuat
Kehebatanku menyembunyikan luka
tak kurang dari beberapa hari,
lebih dari itu lukaku menganga parah.

Kau, ya kau!
Kenapa aku harus mengalami?
Luka lama yang kau hasilkan ini,
membuatku lumpuh.

Aku selalu berkabung pada masa lalu
Mengingatmu seperti kesalahan
Tapi sungguh, cinta yang dulu untukmu itu,
tak pernah salah.
Aku bahkan masih menyimpannya,
meski tak tahu untuk apa.

Terkadang suatu hari kau datang, kuharap
Mencoba bicara bahwa luka-luka itu hanya salah paham
Kau tahu, aku pasti langsung melupakannya
Membuka hati lebar-lebar
Lalu, bersiap menuliskan cerita yang baru.

Akan tetapi, tampaknya mimpiku terlalu jauh
Terlampau tinggi, nyaris mati saat jatuh ke bumi
dan dari keadaan yang kubaca,
hari yang kutunggu itu takkan pernah menjadi nyata.

Jakarta, 22 Desember 2014



===================

©Nila Fauziyah
DILARANG KERAS MENGUTIP SEBAGIAN ATAUPUN KESELURUHAN PUISI DI ATAS TANPA SEIZIN PENULIS.

Rabu, 07 November 2018

Mengulas Interior DFSK Glory


Produk mobil keluarga sekarang ini bisa dibilang sangat beragam dan sangat banyak jenis dan tipenya. Hal tersebut dikarenakan juga dengan semakin tingginya permintaan terhadap produk mobil keluarga ini. Ada salah satu produk mobil keluarga yang bisa Anda pilih sebagai rekomendasi yaitu mobil suv keren murah SUV DFSK Glory 580. Produk mobil keluarga satu ini merupakan mobil keluarga keluaran terbaru dan baru-baru ini mulai dipasarkan di Indonesia. Walaupun mobil keluarga SUV DFSK Glory 580 ini merupakan produk Cina dan harganya sangat miring. 

Tetapi performa, tampilan, desain dan aspek lainnya bisa memuaskan para pemiliknya. Anda bisa menikmati mobil SUV dengan kisaran harga Rp230 jutaan saja. Tentunya hal tersebut tidak boleh terlewatkan mengingat harga mobil SUV terkenal cukup melambung tinggi. Berikut ini ulasan mengenai spesifikasi mobil keluarga SUV DFSK Glory 580 lebih lanjut. Pertama-tama kita bahas mengenai interior mobil ini yang lumayan mewah serta patut untuk diacungi jempol. Dirasa cukup mewah karena budget untuk memiliki mobil keluarga SUV DFSK Glory 580 ini hanya sekitar 230 juta saja. Dari warna gelapnya bisa memunculkan kesan yang sporty dan juga elegan. 

Ada salah satunya instrumen yang membuat mobil keluarga SUV DFSK Glory 580 ini terlihat semakin mewah yaitu adalah keberadaan sun roof. Disamping itu, jok pada mobil keluarga SUV DFSK Glory 580 ini juga dibuat dari kulit yang berkualitas. Panjang ruang bagasi pada mobil DFSK ini yaitu antara 390 hingga 1.960 mm. Tentunya sepeda saja bisa muat untuk masuk ke dalam bagasi mobil keluarga SUV DFSK Glory 580 ini. Selain itu, terdapat 30 buah ruang penyimpanan pada mobil DFSK Glory ini. Lalu bagaimana dengan rival mobil keluarga SUV DFSK Glory 580 ini yaitu CR-V? Tentunya jelas kalau mobil yang harganya sekitar setengah miliar tersebut mempunyai interior yang sekelas kendaraan mobil Eropa. 

Dasbordnya dilengkapi dengan material yang soft touch, terdapat sunroof juga, serta panel kayu dengan warna hitam doff. Bisa dibilang, soal interior memang mobil keluarga SUV DFSK Glory 580 ini kalah, tetapi tidak terlalu kalah telak. Itu tadi beberapa ulasan mengenai mobil suv DFSK Glory 580 yang merupakan produk kendaraan mobil keluarga keluaran terbaru. Anda bisa memilih mobil suv DFSK Glory 580 ini sebagai rekomendasi mobil keluarga yang murah, mewah, trendy dan handal ini. Anda tidak perlu lagi mengeluarkan uang yang banyak lagi untuk mendapatkan kendaraan keluarga yang top class seperti mobil suv DFSK Glory 580 ini. Apalagi sekarang ini sudah banyak mobil SUV dengan harga yang sangat tinggi atau tidak terjangkau kaum masyarakat menengah. Anda tidak perlu khawatir mengenai segi mesin, interior, eksterior, fitur keamanan ataupun fitur hiburan pada mobil suv DFSK Glory 580 ini. 

Meski kendaraan mobil suv DFSK Glory 580 ini besutan negeri China, tetapi kualitasnya mampu bersaing dengan kendaraan mobil suv lainnya. Sekian saja informasi otomotif kali ini, semoga Anda bisa lebih paham lagi mengenai mobil suv DFSK Glory 580 yang saat ini sedang hype dan diminati banyak orang. Bagi Anda yang berminat untuk segera memiliki mobil suv DFSK Glory 580 ini, maka Anda bisa segera memesannya karena harganya sangat murah untuk golongan mobil suv keluarga. Pastinya mobil suv DFSK Glory 580 ini dapat menjadi mobil keluarga yang sangat memuaskan.

Jumat, 10 Agustus 2018

Beda Kepala, Beda Suara? Wajar! So, Stop Mom War!

Sejujurnya, saya suka minder jika harus menuliskan artikel bertema parenting. Soalnya, saya sendiri belum menikah dan mungkin ibu-ibu di luar sana (yang membaca tulisan ini) bisa langsung judge, "Situ aja belum nikah, sok-sok-an nulis naskah parenting." Sebab, yang saya percayai:
Guru terbaik dalam kehidupan adalah pengalaman, dan setiap pengalaman tidak harus kita sendiri yang mengalaminya. Kita bisa belajar dari pengalaman orang-orang di sekitar, asalkan kita bijak dalam menyikapi dan menyortir: apakah pengalaman ini, baik atau buruk? Apakah pengalaman si A, cocok dengan kondisi kita atau tidak? 
Bagi saya pribadi, walaupun terkadang saya terkesan cuek. Sebenarnya saya suka memperhatikan situasi sekitar. Kita hanya perlu lebih bersimpati terhadap permasalahan seseorang. Kalau sampai hati dan mampu membantu menyelesaikan permasalahannya, itu lebih bagus lagi. Hanya saja, saat seseorang memiliki suatu masalah, tidak semua orang mau menerima pertolongan dari kita. Malah mereka keras kepala dengan keputusan mereka sendiri.Kalau sudah begitu, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak boleh memaksa apalagi mencecar orang tersebut karena keputusan yang dia ambil.

Ah, pembahasan saya mulai melebar ke mana-mana. Padahal rencananya saya mau menanggapi tulisan Mak Indri, soal Stop Mom War. Iya saya telatttt banget nanggapinnya, T_T maaf ya.

Intinya, kata Mom War sendiri pada awalnya saya kurang paham (berhubung saya belum nikah kan :D) sampai akhirnya Mak Indri mengangkat tema tersebut sebagai judul artikel, saya jadi lebih paham. Ternyata di kalangan ibu-ibu ada peperangan juga ya? Duh, maaf kalau kesannya saya sarkas karena memang menurut saya hal itu agak lucu.

Untuk apa sih ada Mom War jika kondisi satu ibu dengan ibu lainnya berbeda? Kita kan tidak bisa menyatukan "suara" dari "kepala" yang berbeda-beda. Apalagi kalau perbedaannya jauh banget, seperti:

1. Perbedaan Latar Belakang Adat



Tentunya tiap suku dan daerah punya cara sendiri dalam mengasuh dan membesarkan anak. Ada yang mendidik anaknya harus menjaga sopan santun dan tata krama, sampai terkesan dikekang. Namun, ada pula yang membebaskan anaknya merantau ke sana ke mari demi mengejar masa depan. Siapa yang salah? Tidak ada ... Sekalipun ada cara si A salah, belum tentu cara kita paling benar.

2. Perbedaan Usia
Terlebih zaman sekarang, banyak banget pasangan yang memutuskan menikah muda. Ibu muda yang katanya cenderung masih labil, meski saya yakin tidak ada jaminan bahwa perempuan yang menikah di atas 25 tahun akan lebih dewasa dalam mendidik anak mereka.

3. Perbedaan Zaman



Zaman sudah semakin berkembang, pola pikir seseorang yang lahir di tahun 70-an dengan tahun 90-an tentu berbeda. Contohnya: Ibu-ibu zaman dulu lebih memilih berobat secara tradisional, sedangkan ibu zaman sekarang yang katanya sedikit-sedikit "cek dokter" sedikit-sedikit "obat rumah sakit". Perbedaan pendapat yang kemudian menerbitkan perang sebagai ajang saling menyalahkan dan merasa paling benar. Sangat disayangkan bukan?

4. Perbedaan Kondisi Hubungan antar Suami-Istri, Ibu-Anak, Ayah-Anak.
Ada seorang ibu yang membesarkan anaknya dengan lemah lembut dan kasih sayang, ada pula yang keras dan tampak seperti tidak sayang padahal sebenarnya sayang. Kita mungkin gemas melihat pola asuh ibu yang terlalu keras dan kasar kepada anaknya. Tapi eitsss... kita jangan langsung menyudutkan apalagi perang. Bisa saja ibu itu sedang berusaha melindungi anaknya dari sang ayah yang suka melakukan kekerasan fisik, mendidik anaknya agar tidak manja, atau malah menghukum anaknya yang kelewat nakal.

5. Perbedaan Keuangan Keluarga



Kita tidak pernah tahu alasan seorang ibu memilih bekerja dan menitipkan anaknya kepada orang lain (pembantu, pengasuh, neneknya si kecil, atau neneknya dari pihak suami). Orang hanya melihat bagian depan, "Oh si X diasuh sama neneknya dari kecil. Ibunya kebanyakan kerja, nggak peduli begitu kelihatannya." dan yang tidak mereka tahu, si ibu baru saja bercerai dari suaminya sehingga dia menjadi tulang punggung keluarga, atau malah si suami ternyata gajinya kecil sehingga sang istri berinisiatif membantu mencari pemasukan tambahan.

Itu hanya beberapa contoh perbedaan, saya yakin masih banyak perbedaan lain yang bisa menguatkan kata Please Stop Mom War!. Jikalau kita merasa cara mengasuh seorang ibu salah, kita bisa merangkul dan memberitahunya cara seperti apa yang menurut kita baik.

Namun, ketika dia menolak untuk menerima saran dari kita, ya sudah ... Kita tidak bisa memaksanya. Kehidupannya, dia yang jalani. Susah senang dia yang merasakan. Kita harus tahu batasan diri sebagai "penasihat", karena pada akhirnya semua keputusan ada pada si ibu itu.



* * * * *

Tulisan ini dibuat sebagai tanggapan pribadi saya terhadap artikel Stop Mom War: Dimulai dari Diri Sendiri yang ditulis oleh Mak Indrinoor dalam #KEBBloggingCollab


Senin, 21 Mei 2018

Mendidik Anak Pertama? Be Positif Thinking Bunda

Menunggu kelahiran bayi memang mendebarkan, ya Bun? Tapi mendidik bayi hingga tumbuh menjadi anak dengan kepribadian baik, jauh lebih menegangkan lho. Apalagi jika anak tersebut adalah anak pertama, akan menjadi pengalaman pertama Bunda dalam mendidik anak.

Mungkin Bunda sudah belajar dari pengalaman ibu-ibu lain, tetapi menerapkan dan merasakan sendiri pengalaman-pengalaman tersebut, belum tentu hasilnya sama. Kok begitu? Bunda perlu ingat, tiap-tiap anak adalah individu yang berbeda, sehingga fase pertumbuhan dan psikologisnya pun berbeda. Jadi, Bunda tidak boleh terpaku dengan pengalaman orang lain, apalagi menjadikannya sebagai tolak ukur atas keberhasilan mendidik anak. Misalnya, ada anak tetangga yang berusia 1,5 tahun sudah bisa salim dengan orang dewasa, sedangkan anak Bunda belum. Jangan khawatir! Jangan buru-buru menganggap anak Bunda gagal. Sebab, pemikiran negatif Bunda itu justru akan berdampak buruk bagi si kecil.

Pikiran yang negatif biasanya akan memengaruhi perilaku yang negatif. Jika Bunda sudah berpikiran negatif terhadap anak, maka bisa jadi tindakan-tindakan yang diambil pun cenderung negatif. Oleh karena itu, cobalah untuk senantiasa berpikir positif. Fokuskan perhatian Bunda untuk mendidik dan mengubah akhlak si kecil sesuai dengan akidah Islam yang benar.

Ubah Pikiran Negatif Menjadi Positif

Sebelum mengubah perilaku anak, ubahlah pola pikir Bunda terlebih dahulu. Karena sebagai sosok yang lebih sering berada di sisi anak, Bunda tentu punya peran yang lebih aktif dalam mengubah sifat dan perilaku si kecil.

Berikut beberapa contoh pola pikir negatif yang perlu Bunda ubah:

1. Anak kecil suka sekali meniru orang dewasa. Ketika Bunda suka memegang handphone di dekat anak, baik itu untuk menelepon, chatting, atau menonton video, si kecil akan memerhatikan dan mulai mengikutinya. Suatu ketika ia meniru perilaku Bunda dan menjadi kesal jika tidak diberikan handphone.
  • Pikiran negatif: “Karena aku sering main handphone di dekat anak, dia jadi ikut-ikutan. Sekarang aku pusing sendiri kalau dia sudah nangis. Kalau dikasih, matanya lama-lama bisa rusak. Kalau tidak dikasih, nangisnya akan semakin kencang.”
  • Pikiran positif: “Aku harus bisa menahan keinginan anak untuk main handphone. Dia perlu dialihkan dengan permainan lain yang tidak membahayakan matanya.”
2. Anak mulai terlihat aktif, suka berlari-larian sampai mengacaukan mainan yang sudah Bunda rapikan.
  • Pikiran negatif: “Ya Allah, lama-lama aku bisa gila menghadapi kekacauan yang dibuat anakku. Kenapa dia sangat aktif dan tidak bisa diam?”
  • Pikiran positif: “Ya Allah, anakku aktif banget. Kira-kira dia punya bakat apa ya, yang bisa dikembangkan?”
3. Anak bukan hanya aktif secara fisik, melainkan juga aktif bertanya-tanya.
  • Pikiran negatif: Aduh, kenapa anak ini terus menanyakan hal yang tidak aku kuasai? Menyusahkan saja!
  • Pikiran positif: “Alhamdulillah, ternyata anakku suka belajar. Wawasannya mulai terbuka. Aku harus lebih banyak membaca buku dan artikel agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya.”
4. Anak mulai tumbuh sampai merasa dirinya bukan lagi anak kecil. Semakin keras kepala dan tidak mau lagi dibantu orangtua.
  • Pikiran negatif: “Anakku mulai keras kepala! Umur masih kecil saja sudah sok bilang bukan anak kecil. Bikin orangtua khawatir saja!”
  • Pikiran positif: “Waw, anakku sepertinya mulai belajar mandiri. Aku harus mendukungnya, aku perlu mengajari dan memantaunya agar dia tidak melakukan kesalahan.”
5. Anak mulai bertindak di luar aturan dan suka membantah. Kadang-kadang Bunda emosi dibuatnya, ingin marah namun takut menyakiti mental anak hingga akhirnya lelah sendiri. 
  • Pikiran negatif: “Aku capek, anak itu benar-benar tidak bisa menurut kepadaku. Aku sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, aku menyerah.”
  • Pikiran positif: “Pasti masih ada cara untuk memperbaiki perilakunya. Aku harus bersabar, aku harus kuat, ini hanya masalah waktu. Aku yakin anakku akan berubah.”
6. Anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan Bunda di rumah. Mulai dari membereskan rumah, memasak makanan, sampai memandikan anak, Bunda yang melakukannya sendiri. Bunda merasa telah banyak berkorban untuk anak, namun anak lebih dekat dengan ayahnya. Bahkan anak terlihat lebih penurut dengan ayahnya dibandingkan Bunda.
  • Pikiran negatif: “Kurang baik apa aku mendidik anakku? Kurang sabar apa? Mengapa dia hanya menurut kalau ayahnya yang meminta?”
  • Pikiran negatif: “Alhamdulillah, anakku dekat dengan ayahnya. Bagaimanapun ayahnya sudah susah payah bekerja untuk menghidupi kami. Dia juga perlu menyayangi ayahnya, sebagaimana dia menyayangi aku sebagai ibunya.”







***
Sumber:

Selasa, 27 Maret 2018

Antara Plagiasi dan Permintaan Maaf



Belakangan ini sedang ramai kasus plagiasi yang dilakukan oleh perempuan berinisal D. Hampir-hampir mirip dengan Mrs. A yang namanya dulu pernah melambung karena tulisan kontroversial, “Islam Warisan” namun ternyata tulisan itu dinyatakan plagiat.

Sebenarnya dulu, waktu kasusnya Mrs. A, saya merasa kesal juga. Kok ada ya, plagiator yang tidak tahu malu, mentang-mentang diundang ke sana kemari bahkan oleh presiden sekali pun, ketika aibnya terbongkar dia hanya membuat surat permintaan maaf, namun masih juga diselipkan sisa-sisa sifat arogannya.

Waktu itu saya terlalu malas untuk menanggapi kasus Mrs. A, karena anak yang sudah besar kepala seperti itu kalau belum kena batunya susah sadarnya. Tapi kali ini muncul kasus yang serupa, plagiasi puluhan cerpen yang bahkan tulisan-tulisannya bukan hanya tersebar di media sosial, melainkan juga di media cetak koran. Wow ... Setelah satu persatu kasus terbongkar, dia mulai menuliskan surat permintaan maaf secara terbuka.

Dibilang kecewa, pasti! Tapi jujur saya mengapresiasikan niat baik dia dengan adanya surat itu. Pasti butuh keberanian besar, meski di sana tidak dituliskan alasan dia melakukannya. Ini tidak bisa dikatakan khilaf karena lebih dari 20 cerpen, tidak bisa dikatakan khilaf karena dia mendiamkannya lebih hampir empat tahun. Terlepas dari apakah benar dia seorang penulis atau hanyalah pembaca yang ingin berubah status menjadi penulis terkenal, tapi melakukan plagiat tetaplah sebuah penipuan. Mengapa tidak ada sanksi tegas atas kasus penipuan semacam ini?

Saya jadi teringat kisah pemecatan Khalid bin Walid yang dilakukan oleh Umar Bin Khaththab. Berawal dari masa kekhalifahan Abu Bakar, pasukan Muslim di bawah kepemimpinan Amru bin Ash dan Khalid bin Walid mendatangi Suku Quda’ah dan Bani Asad, dengan maksud menghadapi kaum yang murtad dan mengembalikan mereka pada ajaran Islam yang benar. 
Singkat cerita, setelah Khalid bin Walid berhasil menumpas pembangkangan Bani Asad, kaum Muslimin bergerak maju menuju perkampungan Bani Tamim yang juga melakukan pembangkangan. Malik bin Nuwairah, sang pemimpin Bani Tamim berhasil dibunuh oleh Khalid. Namun, belum juga darah Malik mengering, Khalid menikahi Laila, istri dari Malik bin Nuwairah.  
Tindakan Khalid ini menyalahi adat kebiasaan orang-orang Arab yang seharusnya menghindari perempuan saat peperangan. Apalagi pembunuhan Malik bin Nuwairah itu dilakukan setelah ia menyatakan keislamannya. 
Atas tindakan itu, Khalid dilaporkan kepada Khalifah Abu Bakar. Ada dugaan, Khalid sengaja membunuh Malik dikarenakan sebelumnya sudah lebih dulu mencintai Laila. Ia melakukan tipu muslihat seolah-olah Malik berhak dibunuh akibat pembangkangan. Namun, Khalifah Abu Bakar tak lebih daripada membayar diat (tebusan) atas kematian Malik dan menulis surat agar para tawanan dibebaskan. 
Ada beberapa pihak yang tidak menyukai keputusan Khalifah Abu Bakar, salah satunya Umar bin Khaththab. 
“Pedang Khalid itu sangat tergesa-gesa, tidak ada perhitungan dan harus ada sanksinya,” kata Umar dengan nada meninggi. 
“Wahai Umar! Ia telah membuat pertimbangan tetapi meleset. Janganlah berkata yang bukan-bukan tentang Khalid,” jawab Abu Bakar. 
Pada waktu itu, kaum Muslim sangat membutuhkan Khalid bin Walid dalam kepemimpinan militernya yang jenius. Itu sebabnya, Abu Bakar tidak sampai memecatnya. Namun, Umar tetap saja marah besar kepada Khalid. Umar tidak ingin diam begitu saja melihat orang membunuh seorang Muslim, lalu menikahi istrinya. Sekali pun ia bergelar Saifullah (pedang Allah) dan telah berjasa menumpas kaum pembangkang, tetap saja hukum harus ditegakkan. 
Penegakan hukum bisa dalam kondisi berbahaya jika mulai ada perbedaan dalam memperlakukan manusia. Ada yang dibiarkan melakukan pelanggaran hukum, sementara yang lain dijatuhi hukuman. Umar berpendapat bahwa seseorang tidak lepas dari dosanya sebelum ia menebusnya. 
Sampai tiba masanya, Umar dipilih menjadi Khalifah untuk menggantikan Abu Bakar, hal pertama yang ia lakukan adalah memecat Khalid bin Walid. Khalid sendiri pun tidak marah, ia menerima semua keputusan itu termasuk menyerahkan kepemimpinan perang kepada Abu Ubaidah.

Apa hubungannya?

Memang, kisah pemecatan Khalid bin Walid mungkin tidak bisa disamakan dengan kasus plagiasi Mrs. D. Kisahnya sangat jauh berbeda, tapi ada banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya. Betapa perkataan Umar itu ada benarnya, 
Umar tidak ingin diam begitu saja melihat orang membunuh seorang Muslim, lalu menikahi istrinya. Sekali pun ia bergelar Saifullah (pedang Allah) dan telah berjasa menumpas kaum pembangkang, tetap saja hukum harus ditegakkan.
Kita tidak bisa membeda-bedakan apakah orang yang melakukan kesalahan itu adalah orang penting atau bukan, orang yang terdekat dengan kita, atau apakah kita mengenalnya atau tidak. Kesalahan tetaplah kesalahan yang harus berikan sebuah hukuman. Hukuman di sini tidak terbatas dengan kata “pidana” ataupun “penjara” meskipun pelanggaran akan kasus plagiasi sendiri sebenarnya sudah ada undang-undang yang mengaturnya. Tapi, amat disayangkan jika sebuah penerbit malah ikut membela si plagiator hanya karena hubungan kedekatan, seakan menutup mata bahwa yang dilakukan si plagiator itu kesalahan fatal. Jadi, untuk apa ada tulisan “Dilarang memperbanyak isi buku tanpa izin dari penerbit. Hak cipta dilindungi undang-undang.” Kalau bahkan penerbit itu sendiri malah membelanya?

Andai kata, orang yang memplagiat itu tidak dekat dengan penerbit X? Apakah penerbit itu juga akan membelanya mati-matian? Penerbit X pasti punya pertimbangan, seperti Khalifah Abu Bakar yang memutuskan untuk tidak memecat Khalid karena masih membutuhkan jasanya dalam kemiliteran. Tapi apa pun pertimbangannya, saya lebih mendukung keputusan yang dilakukan oleh Khalifah Umar. 

Penerbit buku adalah tempatnya para penulis bisa merasa aman, sebab karya-karya mereka telah diterbitkan secara sah dengan bukti fisik berupa buku. Maka, bukankah sudah sepatutnya penerbit ikut memberi sanksi tegas kepada orang-orang yang melakukan plagiasi? 

Saya tidak meminta penerbit untuk memblacklist Mrs. D. Walaupun setahu memblacklist seorang plagiator bukanlah berita baru, itu sudah umum dan sah terjadi. Misalnya Grup Unsa (salah satu tempat Mrs. D menang lomba menulis) yang akhirnya mencabut gelar runner-up Mrs. D dan memblacklistnya selama 2 tahun. Agar apa? Agar memberi efek jera kepada Mrs. D dan tidak ada lagi orang-orang yang melakukan hal yang sama (memplagiat naskah).
Memblacklist bukan berarti membenci plagiator, melainkan membenci tindakan plagiatnya.
Saya hanya takut, ke depannya ... jika tak ada sanksi tegas, lalu dengan begitu mudahnya seorang plagiator meminta maaf, serta mendapat dukungan dan kepercayaan dari orang-orang terdekatnya, bahkan penerbit yang pernah menelurkan bukunya, plagiator-plagiator di luar sana jadi menggampangkan kejadian ini.
“Ah, tinggal copas naskah orang, kalau ketahuan tinggal bikin surat permintaan maaf terbuka. Nggak perlu mendengarkan omongan netizen yang pedas, nanti hilang dengan sendirinya.”
Lalu, untuk Mrs. D, jadilah Khalid yang berlapang dada. Surat permintaan maaf bukanlah bentuk pertanggungjawaban terakhir, apalagi dijadikan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan mudah, semudah kamu menerbitkan buku dengan cara plagiat. 

Permintaan maaf secara terbuka hanyalah awal, maka perlu dilanjutkan ... Jelaskan dengan gagah naskah mana saja yang sudah kamu plagiat, beritahu orang-orang yang dulu pernah menjadi pembaca setiamu. Lebih bagus lagi kalau kamu bisa mengembalikan semua uang hasil menang lomba ataupun honor hasil plagiatmu itu. Kalau memang tidak bisa, ya saya tidak bisa memaksa, karena kondisi seseorang beda-beda. Tapi saya ingin mengingatkan bahwa uang hasil penipuan itu jatuhnya haram, dan apabila kamu bertobat tanpa mengembalikannya, bisa berubah menjadi utang yang akan terus kamu bawa mati. Kecuali, mungkin pihak yang kamu rugikan mengikhlaskan uang-uang itu.


*** 

Cerita mengenai Khalid bin Walid disadur dari buku the Golden Story of Umar bin Khaththab terbitan Maghfirah Pustaka.